9 Jurus Jitu Mengelola Keuangan Keluarga

Mengapa Keuangan Keluarga Harus Dikelola?

Yup, itulah pertanyaan mendasar yang akan dilontarkan ketika kita harus dihadapkan pada pilihan mau tidak mau harus mengelola keuangan. Jika masih hidup menjomlo mungkin tidak ada masalah, eh nggak juga ding, adik saya yang masih sendiri juga bilang kalau keuangan itu wajib dikelola dengan baik, biar tidak besar pasak daripada tiang, lebih besar pengeluaran dari pemasukan, hikss.

Jika sudah berkeluarga tentu masalahnya lebih kompleks lagi, sebab ada suami/istri dan anak-anak. Bayangkan jika tidak diatur sedemikan rupa bisa-bisa belum habis bulan sudah tidak punya uang dan akhirnya menggali lubang di sana-sini.
 
tips mengelola keuangan keluarga
 
Kenalan saya pernah bercerita kalau dia tadinya tidak merasa perlu mengelola keuangan keluarga. Jadi sistemnya asal ada uang masuk, langsung dihabiskan sesuka hati, tepatnya shopping, beli baju baru, makan di resto, dan kalau uangnya agak banyak ganti furniture. Apa yang terjadi? 
 
Benar saja, selang dua minggu ia pun menelepon saya, memohon dipinjami uang, bukan buat apa-apa, buat beli makan. Miris tidak tuh, kalau pinjam buat bayar uang sekolah anak atau bantu usaha mungkin lebih bisa diterima, tetapi ini buat kebutuhan pangan sehari-hari. Apa gunanya sofa baru kalau makan pun ngutang, subhanallah. Menurut saya yang seperti ini tidaklah masuk akal. 

Jadi mengelola keuangan keluarga itu penting sekali agar kebutuhan rumah tangga bisa dipenuhi dengan baik tanpa perlu menimbulkan kewajiban baru (baca: utang).

9 Jurus Jitu Mengelola Keuangan Keluarga

Berikut beberapa jurus jitu mengelola keuangan keluarga di masa new normal atau adaptasi kebiasaan baru:

1. Hitung total pemasukan

Mengelola keuangan keluarga bisa diawali dengan menghitung total pemasukan yang diterima dalam satu bulan. Andaikan istri juga bekerja, gabungkan semua penghasilan untuk mengetahui jumlah persis dan posisi keuangan keluarga.
 
Eitt, ada tips juga sih ini dari teman saya, sebagai seorang perempuan kan kebutuhan untuk diri sendirinya banyak, jadi sah-sah saja jika menyisihkan banyak sedikiiitt buat kegiatan me time. Jujur, me time-nya orang kan beda-beda ya, me time-nya dia tidak bisa saya ikuti. 
 
Sebelum pandemi ia suka pergi ke tempat karaoke, spa & salon, serta ngopi-ngopi syantik di kafe yang instagramable.
 
Hmm, kebetulan kalau me time-nya saya sih menulis jadi sepertinya anggaran beli kopi sachet bisa dimasukkan ke daftar belanjaan bulanan kok, jadi tak perlu ribet menyembunyikan income.

2. Tetapkan skala prioritas kebutuhan

Setelah memperoleh angka pasti pemasukan, saatnya membuat skala prioritas. Apa itu skala prioritas? Skala prioritas adalah ukuran kebutuhan yang tersusun dalam daftar berdasarkan tingkat kebutuhan seseorang, dimulai dari kebutuhan yang paling penting sampai kebutuhan yang bisa ditunda pemenuhannya.

Kebutuhan makanan sehari-hari tentunya memiliki tempat pertama. Jangan seperti kisah kenalan saya di awal tulisan ini, ia salah menempatkan prioritas, bisa dikatakan tidak bijaksana dalam mengelola keuangan. Kebutuhan primer yang berhubungan dengan keberlangsungan hidup tidak bisa ditunda. Setiap hari kita butuh makan setidaknya tiga kali. 
 
Belum camilan dan vitamin atau suplemen makanan. Di masa adaptasi kebiasaan baru mengonsumsi makanan bergizi dan vitamin menjadi salah satu pola hidup yang sangat dianjurkan demi meningkatkan daya tahan tubuh dan terhindar dari Covid-19.

3. Segerakan melunasi kewajiban 

Segerakan membayar tagihan-tagihan, seperti tagihan listrik, air, gas alam, spp anak-anak, gaji ART, arisan dan sebagainya. Usahakan membayar cicilan jika masih memiliki tanggungan cicilan. Misalnya cicilan rumah, motor, mobil, kartu kredit, asuransi BPJS dan sebagainya. 

Jika semua atau hampir semua kewajiban sudah dilunasi maka uang yang tinggal bisa dialokasikan plus disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari. Kita tidak bisa lagi menganggap masih punya banyak uang karena sudah digunakan sesuai dengan pos-posnya.

Kondisi ini bisa memengaruhi pengambilan keputusan keuangan Anda di kemudian hari, misalnya ingin menambah kendaraan baru satu lagi, tentunya akan berpikir ulang sebab akan berdampak pula pada pembayaran cicilannya.

4. Sisihkan untuk tabungan 

Mungkin ini jurus yang sangat sering terdengar namun agak sulit untuk dipraktikkan. Benar tidak? Menyisihkan tabungan dengan nominal yang sama setiap bulannya secara konsisten bukan hal yang mustahil dilakukan kendati banyak sekali godaannya.

Menjadi tantangan bagi kita untuk menaklukkan keinginan untuk berbagai tujuan demi terisinya tabungan. Sebaiknya buat rekening khusus tabungan kalau bisa tidak menggunakan fasilitas kartu ATM. Sehingga kala godaan ingin menarik uang muncul, berhubung teknisnya ribet, mesti mendatangi bank, di hari dan jam kerja, akhirnya keinginan itu surut sendiri. 
 
Tetapi percuma saja meski tidak memegang kartu ATM-nya namun mengunduh aplikasi mobile banking atau internet banking-nya, sama saja, malah lebih praktis tinggal tap-tap dan klik transfer.
 

5. Berinvestasilah meski kecil

Dulu nenek saya berinvestasi dengan membeli perhiasan emas yang dikumpulkan sampai sekaleng penuh wadah biskuit Khong Guan. Dari investasinya itu beliau bisa naik haji, menyekolahkan ibu saya dan paman sampai ke perguruan tinggi serta memajukan usaha dagang kainnya.

Zaman sekarang selain berinvestasi dengan emas, banyak alternatif yang bisa dipilih jika ingin berinvestasi. Bisa dengan reksadana, deposito, memiliki properti, jual beli saham, hingga membeli tanah. Tinggal disesuaikan saja dengan kemampuan yang ada saat ini. Meski kecil tidak ada salahnya memulai investasi dari sekarang kan.
 

6. Gunakan aplikasi pengatur keuangan

Beruntungnya hidup di zaman sekarang, banyak kemudahan yang ditawarkan dalam menyelesaikan satu persoalan, termasuk dalam mengelola keuangan keluarga.  Kalau dulu kita biasa menggunakan pena dan buku catatan untuk menuliskan anggaran belanja keluarga, kini tak perlu ribet jika di meja alat tulis sedang tak ada. 
 
Cukup buka aplikasi pengatur keuangan seperti UangKu, Monify, Money Lover dan lain-lain, maka Anda bisa mengendalikan keuangan keluarga dengan cermat.
 
9 jurus jitu ala Fadlimia
Ilustrasi membuat catatan keuangan keluarga / Klubwanita

7. Buat catatan saat berbelanja

Jangan sepelekan catatan belanja. Selain menghemat waktu saat berada di pasar atau supermarket, catatan belanja juga menghemat waktu dan tentu saja uang belanja. Mengandalkan feeling saja tidak memadai. Barang yang menjadi tujuan utama tidak terbeli, malah yang relatif tidak diperlukan dibawa pulang. 
 
Menulis catatan belanja juga bisa di smartphone. Tinggal buka aplikasi note, semua belanjaan pun masuk shopping mart. Membuat catatan saat berbelanja relevan dengan menentukan skala prioritas. Sehingga kita mudah membedakan antara want and need.

8. Tanamkan kebiasaan hidup hemat pada anak

Sedari kecil baik sekali menanamkan kebiasaan hidup hemat bagi anak. Hemat berbeda dengan pelit. Mengajarkan hidup hemat berarti membiasakan anak menentukan apa yang seharusnya ia beli sekarang dan apa yang bisa ditundanya. 
 
Anak yang pandai berhemat bisa juga disebut melek literasi keuangan sejak dini. Agar ia lebih menghargai hasil kerja keras orang tuanya, tahu kalau mencari nafkah itu tidak mudah, dan belajar untuk bersikap bijaksana dalam menggunakan uangnya. 

9. Jangan lupakan ZIS

Last but not least, semua ikhtiar telah dilakukan namun jangan lupa bahwa di dalam harta yang kita punya ada bagian fakir miskin dan anak yatim yang harus dikeluarkan. Dengan berbagi berarti mengusahakan keberkahan hadir dalam uang yang kita kelola. 
 
Sehingga meskipun rasanya uang Anda tidak begitu banyak namun tidak merasa kekurangan. Itulah hikmah menunaikan zakat, infak dan shodaqoh. Harta yang bersih mendatangkan barokah, cukup, dan membawa ketenangan hati.

Kesimpulan

Ada 9 jurus jitu mengelola keuangan keluarga di masa new normal atau adaptasi kebiasaan baru, yang bisa diterapkan.

Hitung total pemasukan, tetapkan skala prioritas kebutuhan, segera melunasi kewajiban, sisihkan untuk tabungan, berinvestasilah meski kecil, gunakan aplikasi pengatur keuangan, buat catatan saat berbelanja, tanamkan kebiasaan hidup hemat pada anak, dan jangan lupakan ZIS.

Demikian jurus jitu dari saya, kalau ada usulan dari teman-teman pembaca, silakan menambahkannya di kolom komentar ya, ditunggu. Terima kasih.
 
Salam,
mengelola keuangan



Referensi:
 
Pengalaman pribadi

https://www.car.co.id/id/ruang-publik/tips-trik/carefinance/mengelola-keuangan-keluarga

https://www.jurnal.id/id/blog/2017-mempelajari-skala-prioritas-dalam-pengelolaan-keuangan/

https://journal.perbanas.ac.id/index.php/jbb/article/view/254

https://www.ekrut.com/media/agar-gaji-aman-ini-5-aplikasi-pengatur-keuangan-terbaik






Berlangganan update artikel terbaru via email:

9 Komentar untuk "9 Jurus Jitu Mengelola Keuangan Keluarga "

  1. setuju point 5 berinvestasilah meski kecil...zaman now harus jeli ya mbak cari peluang investasi jadi sekecil apapun kalau bisa di investasikan ya hrs kita mulai..contoh sy investasi setor sampah plastik di bank sampah ntar akhir tahun ada imbal hasil nya . mayan mbak buat beli sembako hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah keren nih Mbak Bayu, berinvestasi sekalian mendukung Go Green yaa

      Hapus
  2. Waw... aku suka banget dengan tips ini kak. Aku Termasuk istri yg cuek soal keuangan. Eh pas datang pandemi baru deh nyesel ngga punya tabungan... hihi... cukup sekali deh kesalahannya.

    Auto aku amalkan deh ini tips mengelola keuangannya. Nabung nabung nabung... Hemat hemat hemat plisss

    BalasHapus
  3. Setuju, Mbak Mia, jika keuangan keluarga tidak dikelola dengan baik bakal ambyar di tengah jalan...Jurus jitunya beneran top ini. Jujur saya lebih teliti lagi setelah pandemi, terutama untuk pengeluaran printilan dari penghasilan saya sendiri..tapi enggak apa-apa daripada ga segera memperbaiki diri kan ya? Yang utama skala prioritas, segera lunasi kewajiban, tanamkan kebaikan berhemat di rumah dan ZIS pastinya!

    BalasHapus
  4. Kak Mia, tau nggak kalo sejak awal nikah shis itu termasuk yang melakukan pembukuan. Uang masuk, uang keluar, yang disimpan dan lain-lain.
    Tapi ngeliat suami beda tipe dan punya kebiasaan yang berbanding terbalik akhirnya hemlas juga segala hal yang jadi kebiasaan.

    Huhu, jadi reminder ini

    BalasHapus
  5. Aduh aku lemah banget nih mba soal kelola keuangan. Jadi, pak suami yang ngatur. Aku suka pusing. Jadi aku kebagian megang uang belanja sebulan aja. Kalau bayar ini itu apa dia. Pusing aku hahaha 😂. Bagusnya pakai aplikasi keuangan gitu ya biar terdata semuanya

    BalasHapus
  6. Setuju sekali Mbak Mia. Kita harus memang mengelolah keuangan dengan jitu. karena kalau tidak, seperti pengalaman temannya Mbak Mia tadi. Terus memenuhi keinginan, dan baru ngeh setelah kebutuhan-kebutuhan pokok hadir dan harus segera dipenuhi. Akhirnya berutang.

    Saya pun begitu, berusaha mengatur keuangan. Apalagi saya freelance yang penghasilannya tidak pasti. Intinya saya mengutamakan kebutuhan dulu, bukan apa yang saya inginkan

    BalasHapus
  7. Membuat catatan keuangan tuh memang sepenting itu ya, Kak. Kita kerapkali merasa masih memiliki banyak uang, padahal itu uang sudah ada posnya masing-masing. Dengan melakukan pencatatan kita jadi tahu, uang yang diterima setiap bulan sebenarnya cukup, kurang, atau berlebih, dibandingkan pengeluaran rutin.

    Mengontrol gaya hidup juga penting banget. Me time kadang jadi pembenaran bahwa kita boleh senang-senang. Me time di luar rumah tuh memang luar biasa borosnya sih menurutku.

    BalasHapus
  8. Aku setuju semua poin ya benar banget... Oke deh aku mau coba minta bantu aplikasi deh buat mencatat pemasukan dan pengeluaran bulanan keluarga. Selama ini dicatat manual aja.. Hehe

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel